Senin, 12 November 2018

Umroh Di Bulan Romadon 2019

PENGALAMAN UMROH RAMADHAN 2008


Bagi Umat Islam berpuasa pada bulan Suci Ramadhan adalah momen yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Dapat dilaksanakan dimanapun baik di Jakarta, Medan, Batam, Padang atau Luar Negeri ( Singapura & Malaysia ), dll, namun bagi kami sekeluarga berpuasa di Tanah Suci terasa sangat berbeda baik dalam menjalankannya, suasananya, cobaan serta godaannya.

Bagi kami sekeluarga kesempatan tersebut merupakan kenikmatan serta anugrah yang sangat besar yang kami terima dari ALLAH SWT. ( krn tidak semua orang yang ingin kesana tapi mendapat kesempatan tersebut ). Maka kami sekeluarga selalu bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan & Rezeki yang telah kami terima tersebut ( Alhamdullillahirobbil ’ alamin ) dan selalu kami rindukan kehadirannya.

Sudah kurang lebih 6 kali kami menunaikan ibadah Umroh di bulan Suci Ramadhan & Sholat Ied di Tanah Suci. Selama menjalankan ibadah Puasa di Tanah Suci ( 10 malam terakhir / Umroh lailatul Qadar ) kami merasakan lebih Khusuk & maksimal , dimana kami hanya memikirkan tentang ibadah-ibadah semata tanpa harus memikirkan hal-hal yang kita lakukan di Tanah Air misalnya ; dimana saya harus memikirkan menu apa yg harus disiapkan pd saat buka puasa, urusan-urusan duniawi ( Tawaf Mal to Mal/ shopping ) atau yang lain, yang tentunya akan membuat kita lelah dan kurang untuk beribadah selain puasa antara lain ( tadarus Al Qur’an, sholat-sholat Sunah, bersedekah ).

Kami seklrg & rombongan Primas Tour & Travel berangkat dari Jkt ke Jeddah tgl 20 Sept ( 20 Ramadhan 1409 H ) by way of Garuda Indonesia Pukul 07.20 Wib, tetapi Allah SWT berkehendak lain karena Pesawat yg kami tumpangi mengalami keterlambatan keberangkatan s/d tgl 21 Sep 08, dengan alasan kerusakan teknis. Kami & rombongan diberitahu pukul 10 – an, tapi pihak Garuda bertanggung jawab penuh & mereka menanggung penginapan & transportasi darat menuju Hotel Mercure Ancol ( Garuda memang Hebat..... Walaupun kami sedih, bingung & khawatir tp hrs hadapi dengan sabar & tawaqal ). Mungkin ada hikmah dibalik peristiwa ini.

Kita harus percaya dengan takdir & Kebesaran Allah SWT bahwa kt hanya bs merencanakan tp hanya Dia lah yg menentukankan. Walaupun kt mempunyai harta banyak & kekuasaan yg besar klu Allah tdk Ridho, hal2 apapun yg kt rencanakan tdk akan terlaksana tanpa izin Nya.

Percaya atau tdk emang begitulah yg terjadi, dimana dalam rombongan journey km ada 1 org calon jemaah Umroh yg mengundurkan diri hanya krn penundaan keberangkatan keesokan harinya krn menganggap hal tsb akan berdampak negatif krn takut terjdi sesuatu sehingga dia membatalkan keberangkatannya ( hanya Kopernya aja yg sampai di Jeddah , langsung diambil & dikirim kembali ke Indonesia oleh petugas trvel yg di sana ).

Maka berangkatlah klrg ku & rombongan menuju Jeddah tgl 21 Sept 08, take of jam 07.Forty five wib, Alhamdullillah rombongan sampai di Jeddah pukul thirteen.00 Waktu Arab Saudi ( 4 jam lebih lambat dr Jakarta ). Setelah selesai mengambil bagasi kami & rombongan berangkat menuju Kota Madinah Al Munawarrah By Bus, tiba pukul 17.50 Waktu Saudi.

Selama berada di Madinah & Mekkah Al Mukarrahmah dari tgl 21 Sept s/d 02 Okt 08, kami seklrg selalu berdoa & beribadah semaksimal yg bisa kami kerjakan.

Walaupun lelah, berdesak-desakan, berebutan, berbeda bahasa/ bangsa serta komunikasi yang kurang lancar, kami tidak pernah merasakan kapok/jera, malahan merupakan semangat serta kerinduan yg mendalam di hati kami untuk terus menunaikan nya setiap tahun apabila kami punya rezeki, sehat & ada kesempatan. ( Mohon do’a ya......).

Para Pembaca yang dirahmati Allah SWT,

Seperti biasa rutinitas yang kami lakukan selama berada di Tanah Suci adalah Sholat lima waktu, Sholat Sunnah, tadarus, tawaf, sa’i, fi sabilillah dan membantu sesama jemaah yang berada di Mesjid Nabawi & di Masjidil Harom yang memerlukan bantuan dari kami.

Tetapi ada pengalaman pertama & baru yang kami dapat pada Ramadhan tahun ini yaitu aku & Putriku yg semata wayang, terpisah akibat terlalu padatnya jemaah yang hadir pada tahun ini.

Pembaca ytc mau baca, ceritanya begini ;

Pada hari jum’at 26 ramadhan 1429 H bertepatan dengan malam 27 Ramadhan ( Malam Lailatul Qadar ), pada siang harinya sa’at akan menjalankan Sholat Jum’at, Aku & putriku berangkat dari Hotel Refadha ( lebih kurang three hundred M dari Mesjid ) kira-kira pukul 11 Waktu Arab ( four Jam mundur dari waktu Indonesia ) menuju Mesjid dengan perjuangan yang sangat berat dimana jemaah sudah penuh di jalan, di pelataran mesjid, apalagi di dalam mesjid, sehingga jarak tempuh terasa lebih jauh karena harus melewati orang-orang yang antep duduk ( takut tdk kebagian tempat sholat) dan tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun buat kami untuk lewat krn mereka takut kami duduk, yang namanya didorong,dicubit,ditarik atau apapun caranyanya demi menyelamatkan diri masing-masing .

Dengan Cara terus bertahmid, berzikir atau apalah yang bisa dilafalkan untuk mempermudah perjalanan kami menuju Mesjid tetap kami lakukan , Tapi Allah berkehendak lain, ternyata kami di uji Allah dengan cara terpisah menjelang sampai ke pintu utama ( pintu 87, kira-kira 2 m dari pintu ) Putriku terdorong kesebelah kiri pintu sedangkan Aku terdorong kesebelah kanan pintu. Kami terus terdorong kedepan dan aku udah lebih dulu maju kedepan ( sedangkan dipelataran pintu udah penuh jemaah yang duduk, anak tanggapun tidak luput dari diduduki jemaah , bayangkan aja bgmn cara kt berjalan diantara orang yg sedang duduk berdempetan ) , kami terus memantau dan berkomunikasi dengan cara berteriak dan menggunakan bahasa tubuh/ isyarat, aku menyuruh putriku u/ tetap bertahan pas dipintu karena di sana ada Askar polisi yang jaga ( ada kursi besar ) dengan airmata yang terus mengalir aku terus berzikir berdoa pada Allah SWT agar semua ini cepat teratasi.

Aku berteriak minta tolong polisi tersebut untuk bisa membantu anakku dan menyelamatkannya dari terus didorong ke depan, akhirnya polisi tsb membantu putriku dengan memberikan lengannya untuk putriku berpegang dan Dia mengangkatnya naik keatas kursinya yang besar itu, lalu putriku berdiri sambil trs mengusap airmata dan trs memperhatikan arah ku, Alhamdullillah aku juga dpt bantuan dari gadis Madinah yang baik hati. Dengan membagikan sedikit tempatnya buatku, walaupun tempat tsb pantas buat satu orang saja, aku & gadis itu hanya bisa berdiri di sudut tiang dekat tangga dengan kaki yang dipegangi oleh jemaah yang duduk (berbaik hati) krn kasihan & takut aku jatuh, hal tersebut (dorong mendorong) terus berlangsung sampai sholat jum’at berlangsung.

Pada saat Sholat akan berlangsung putriku diturunkan oleh polisi tadi diantara sela belakang pintu besar, akhirnya putriku dapat tempat duduk (walaupun sempit) dan sholat Jum’at berjamaah , tapi aku terpaksa sholat dgn keadaan yg kurang nyaman & sempurna krn dalam keadaan berdiri dan berdempetan dengan gadis Madinah tsb.......( Terima kasih Saudara Madinahku ).

Setelah rangkaian sholat Jum’at selesai, perjuangan kami belumlah selesai. Karena aku & putriku belum bersatu kembali, aku meneriaki putriku untuk tetap bertahan ditempatnya karena aku yang akan berusaha menuju kearah tempat putriku duduk. Tapi karena Menjelang malam Lailatul Qadar orang-orang yang udah duduk tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya bahkan yang mau masuk bertambah terus dan berdesakan.
Aku tidak bisa keluar / ketempat putriku karena terus terdorong kedepan, rupanya polisi tadi melihat aku sambil berteriak "Hajjah " dengan menggunakan bahasa isyarat ( tangan ), menyuruh aku untuk bertahan ditempatku karena polisi itu yang akan datang ketempatku dan membawa aku ketempat putriku. Perjuangan Polisi itu juga berat krn terus didorong oleh jemaah ( emangnya di Indonesia ...... Kita takut ama Polisi, di sini kebalikannya ) sampai-sampai polisi itu terjatuh dan terlempar diantara jemaah-jemaah yang duduk ( lucu juga aku ngelihatnya ) , ada yang menolong ada juga yang malah memukul, mencubit polisi itu. Akhirnya dengan susah payah polisi itu dapat berdiri lagi & menghampiriku dengan mengisyaratkan tangannya untuk memegang ikat pinggangnya dan akhirnya sampailah aku ketempat putriku tercinta ( kami berpelukan sambil menangis ) kami mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT karena kami dapat bersatu kembali dalam keadaan selamat.
Kami perlahan-lahan dapat keluar dari mesjid dan melakukan perjalanan kembali menuju ke pintu 1 ( King Abd Aziz ) yg bersebelahan dengan pintu Azziziyat ( tempat biasa kami sholat berjamaah dari Zuhur hingga Tarawih setiap harinya ).

Pesan kami buat para pembaca , dari kejadian diatas adalah bila akan melaksakan sholat berjamaah di Masjidil Harom pd saat menjelang malam2 Lailatul Qadar ( tgl 21, 23, 25, 27 & 29 Ramadhan ) maka kita harus berangkat lebih awal, memakai identitas ( contohnya ; kami berdua selalu memakai pakaian dgn warna, motif, version yg sama agar mudah bagi kami & org yg melihatnya), bersabar, tawakal & lebih memperhatikan kesehatan karena jamaah akan terus membludak , mereka tidak mau melewati saat-saat Malam Lailatul Qadar untuk beribadah.
Walaupun Area Masjidil Harom yg sangat luas sudah penuh sesak dan resort-hotel banyak yang digusur untuk pelebaran mesjid, tidak membuat minat jemaah surut untuk melaksaanakan ibadah Umroh dibulan Ramadhan.

Semoga pengalaman kami ini berguna & bermanfaat bagi para pembaca yang ingin menunaikan ibadah Umroh di bulan Suci Ramadhan pada tahun-tahun mendatang, Semoga ALLAH SWT mengampuni dosa-dosa & menerima amal ibadah kami sekeluarga selama kami berada di Tanah Suci. Amin 3 x Ya Rabbalalamin.